Mengenai Saya

Foto saya
Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, Radar Surabaya, NOVA, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, www.sastradigital.com, www.angsoduo.net, Majalah Sagang Riau, dll. Bekerja di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Jumat, 30 Januari 2015

Sajak-sajak

Harian Umum Lampung Post

Sunday, July 27, 2014

Sajak-sajak Alex R. Nainggolan

Telapak Waktu

Kau adalah telapak waktu. Yang menjejak di tubuhku, sepanjang hari yang penuh duri. Kerumun mimpi yang tak usai kupunguti satu per satu. Namun kau terus melangkah, berharap tak kesasar bersama sejarah yang hambar. Di jalan yang gelap tanpa kertas peta, kau tarik lenganku dan memancung segala purnama yang hinggap di langit. Tapi orang-orang lebih senang merayakan luka dari pori-pori kulit mereka. Memasuki serapah yang dipenuhi ludah, atau segala tabiat jahat sebelum malam berangkat. Dan engkau masih terus menyobek hari yang tertanda dalam almanak. Seperti segala dosa dan sedih telah tamat. Di rimbun kota, aku dihinggapi cemas yang runcing di ujung rambut. Suara anjing yang terus melolong, dan kota yang telah menjelma jadi raksasa hitam. Namun tahun memang menua, jejaknya masih kau catat, di sebuah buku yang telah terjatuh di lorong gelap. Suara teriakan itu bergumul, memanggul semua jasad yang kehilangan kenangan.
Engkau adalah telapak waktu. Jejak tanpa muslihat, mendekapku dalam muram.

Edelweis, 2014


Gumam Puisi

Sejauh mana engkau pergi
Kota telah buta oleh cahaya
Kata menjadi rekah fajri
Yang melulu dihimpun sunyi
*
Mungkin tangis
Yang tak sempat direkam
Oleh gumpalan luka
Menggumul dari sisa cahaya
*
Aku dan kamu membaca
Sepanjang aksara
Yang tak juga
Jadi tua
*
Sepanjang puisi
Bara kata yang hampir mati
Kenangan terasa sunyi
Memanggil suara lain
Yang mungkin abadi
*
Langkah kaki
Terseret pergi
Wangi sunyi
Terbakar lagi

2014



Hujan Juli yang Dingin

Sepanjang hari, Juli tertempa hujan. Dingin abadi di jalanan, sementara orang-orang melangkah dalam puasa yang teduh, atau menanti siapa yang kelak jadi presiden. Hujan merantau di seluruh ruangan, merebut segala bayangan angin. Kaca-kaca berembun, kenangan membasah, airmata terus berjatuhan. Tubuh-tubuh berdesakan, mencari payung atau sekadar mantel hangat. Aku merapat ke masalalu, yang selalu saja buntu. Melangkah di antara genangan luka yang lama membatu. Juli terus membasah, di tiang-tiang listrik. Cemeti sunyi merebak, menapak tanpa jejak diusap air. Mengalir dari setiap pangkal kesedihan. Hujan belum juga berhenti. Dan kerumun orang masih menepi, bercanda dengan degup waktu yang makin nampak di dada.

Juli 2014



Kita
      - asrina        
     
Ingin kucabuti segala sedihmu. Sembilan tahun dan kita berangkat menjadi tua. Tapi selalu ciumanmu kutunggu, di batas pagi atau malam. Agar segala sesak di dadaku terdiam. Bukankah selalu ada pintu rumah yang terbuka; dengan tawa kanak-kanak setiap kali kita tiba? Maka akan kuredakan sesal yang kausimpan dari jalanan. Pernikahan ini akan melingkar di seluruh tubuh, sebab engkau bukan lagi dara yang kerap menunggu mekar mawar.
Ini musim hujan, yang selalu kauarsir dengan cemas. Bersama dinginnya yang muram, menghitung kelam demi kelam. Tetapi, aku akan selalu tiba untukmu. Bertahun-tahun meski berkerumun dendam dan demam. Merindukan selalu, pelukanmu yang rapat itu.

Juli 2014


Bermain dengan Hujan

Bukankah itu adalah hujan yang kautemui waktu kanak dulu? Dengan tubuh kecilmu berlari sepanjang jalan, hingga tubuhmu kuyup, kulitmu mengerut. Tanpa cemas. Dan itulah kenangan yang panjang, meski engkau meriang, menahan gemetar tubuh yang dibalut dingin. Gigimu gemeretuk, mengetuk mimpi yang binar. Nampak pijar matamu selalu berdenyar, sepanjang hari.
Kini engkau jalani lagi ingatan itu, namun tubh yang dewasa tak sanggup menampung segala riang hujan. Tubuhmu ngilu dan dihajar influenza berat. Kau coba mengingat; ternyata kilap hujan lebih kuat. Tak bisa kautampung hingga rampung di tempurung kepalamu. Hanya ingatan pada selimut hangat atau jalanan yang terus membasah dalam kecambah hujan.

Kebon Jeruk, 2014


-----------
Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen FE Unila. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di berbagai media dan antologi bersama. Bukunya: Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, 2012), dan Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, 2012).


Lampung Post, Minggu, 27 Juli 2014

Sajak-sajak di Riau Pos

http://www.riaupos.co/spesial.php?act=full&id=994&kat=3


Lumbung
1/
sepanjang tahun ia menabung kata
di lumbung kenangan
tapi kata tak gandrung
cuma murung mengisapnya
tak kunjung jadi kuning tua
menanam benih yang tak tumbuh

dan kota ini jadi kering dan asing
bayangan puisi mengabur di kaca jendela
mungkin ia perlu bertahan dalam pelukan
seorang perempuan
ketika hujan tandang

2/
di malam ini,
ada isak kata menangis tersedu
tak bisa ia tenangkan
bahkan ketika sebuah sajak
selesai ditulisnya

2012


Bandar Jakarta
semestinya engkau tak usah menghubungiku
kenali saja kota ini sendiri
kau akan paham jika penat telah lama pucat
di antara kendaraan yang antri
dan debar klakson

waktu yang aus
tanpa per
yang mengajakmu kembali ke silam
gang sempit, suara jerit

sebab hanya ada hutan buatan di sini
pohon-pohon masuk ke dalam pot besar
dan trotoar bukan milik pejalan kaki

dan kau akan senantiasa kangen di sana
ingin singgah serupa kundang
di bandar besar
dengan otak jahat yang berlingkar

hanya tandus jalanan
beratus hari hilang hujan

2012


Kue Ulang Tahun
- asrina

ayolah, potong kue itu
hanya ada desir waktu cemas menguntit dirimu
membayangkan engkau tumbuh
dan dipenuhi kerut wajah
hanya nyala lilin
uban yang memanjang
dan engkau yang telah menjadi ibu

ayolah, buka kado itu
setelah ini kita ke pantai
mengakrabi biru laut
dan menyimpan kenangan yang lama sungut

hanya senyumanmu
mengganti bilangan hari
yang selalu kautandai setiap pagi

2012


Istri
1.
ia memasukkanku ke dalam kamar
ranjang yang hangat
dan secangkir kopi di meja depan

“selalu aku ingin menggambar hujan bersamamu!”
lengannya lebih rekat menyumbat ingatanku

2.
ia berdandan di depan cermin
“adakah aku menjadi tua?”
ia seperti ingin menggugat waktu
tapi pelukannya telah merawatku
setiap kali tubuhku gemetar

“kutinggalkan bekas gincu di telapak tanganmu. supaya engkau ingat selalu.”
ucapnya menjauh, sebelum aku tergesa kerja

3.
ia membenahi segalanya
aku yang tak pernah ingat letak pakaian
dan menyimpan usiaku yang kerap tak usai dikayuh

Poris Plawad, 2012


Menyusun Puzzle
mestinya aku mengenangmu lewat hujan
tapi hanya cuaca sengat yang larat mendekat
dan aku terjerat padamu
segalanya membekas
semacam saat menyusun puzzle kenangan yang retak
membetulkan letak ingatan
tentang ranum bibirmu

meskipun sepanjang kota
kerumun orang mengumpat
hanya ada bekas tahun yang menguning
seperti terkunci

ah, betapa sulitnya kurekatkan dirimu
bertahun-tahun tak kunjung rapat

2012


Alex R. Nainggolan
Lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Universitas Lampung. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku dimuat di berbagai media seperti Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jawa Pos, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, dll. Termuat dalam antologi bersama, seperti Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011), dll. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012). Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah. Kini ia bekerja di pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Jumat, 25 Januari 2013

Sajak-sajak


Jam Gadang yang Berdentang
bagaimana bisa kuhapus seluruh wajah kotamu?
bahkan ketika getar gempa menghadang
dan jam gadang terus berdentang
seperti sebuah remang
yang melulu singgah dalam lukisan
lalu kotamu membeku
seperti bongkah batu
lalu kaupun membaca hikayat si malin kundang

ah, lupakan saja sekejap ihwal anak durhana itu
tubuhnya telah liat oleh cuaca
ia yang membatu dan seperti suara setubuh
yang dibangunkan orang-orang pada setiap jerit kalimat
namun kotamu terus apik
semacam menanam rindu
untuk pulang lagi
jam gadang yang berdentang
adakah ia menyimpan rahasia?
saat gegas langkah menderap singgah
memecah linu pejalan kaki
lalu ia merasa cuma sekadar penanda
“semacam waktu yang gugur, tak pernah sempat untuk dikubur.”
menelusup di kenangan pada buku waktu
ketika disibak halaman demi halaman
bersidekap pada silang kota
dan membelah segala gelisah
seperti dirawatnya luka orang-orang
seperti didengarnya tangis kanak-kanak
seperti dijemputnya binar harapan
dan ia tumbuh senantiasa
persis kecambah pada pepohon
yang liuk menekuk rimbun daun
dan ia berbunyi
seperti gema saung
menempuh subuh jauh
di antara bakan orang manatiang piriang
lalu disusun agenda
jam gadang terpejam
didengarnya detak dari detik
seperti degup tubuh yang dipenuhi sauh
ia berlayar bersama waktu
kerap bergetar dan melingkar
bertahun-tahun jam itu kukuh di sana
setia menjaga kota
juga ingatan remang yang pendar cahaya
sembul gedung
bayangan rumah gadang
harum kopi kawa
dengan batok kelapa kering
“hiruplah aku ketika asap masih mengepul. dan engkau akan membawa remah biji kopi
sampai ke palung mimpi.”
maka petiklah
hanya daun yang penuh getah
mengobati linumu
jauh di remah galau
setiap jarum penunjuk arah
bagai tak mau kalah
atau melompat keluar
sekadar bermimpi untuk pulang
berpalang-palang rajam untuk rumah
maka ditatanya kota itu sendirian
ia bertahan pada setiap gaduh yang tumbuh
barangkali masih sempat dijemputnya
aroma kapau dari sebuah restoran
atau teh telor yang sengat dengan susu
langkah orang-orang yang lelap di antara gagap
hingga tak mampu menjawab lidah usia
seakan menjemput tanda kerut di tubuh
ah, betapa ia tetap bertahan di sini
bahkan ketika kota ini dipenuhi guncang
lindu yang mengeras dari dalam tanah
sementara di wajah pejalan
yang menembus bandar
luka itu kerap tumbuh
tapi bukankah aku telah gadang;
bahkan ketika gempa datang?
2011
Pasar Sungai Sariak*
sepanjang kerucut rumah gadang
remah ingatan sepotong lagu
“kampuang nan jauh di mato…”
saat harga adalah rahasia
terjebak di antara ruas jemari
dan tak ada lagi curiga
cuma rangkuman percaya
rahasia di mata
sepanjang pasar
ternak yang beranak
kelak berpindah tangan
tanpa ucap
hanya terasa degap
ketika semuanya usai
tanpa mesti ada yang sangsai
di balik selendang
jemari yang sembunyi
tanpa suara
sunyi
dengan mata berbinar
cuaca yang berdenyar
mengharap kabar
dan tinggal menghitung arah angin
akan ke mana ini berakhir
ibarat muara
cuma suara ternak yang mengucap
percuma kaugoda
semacam obral di mall besar
sebab yang tamak kelak akan sia
ditikam bayangan kota padang
2011